sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Otoritas Bursa Mundur di Tengah Sentimen MSCI, Pasar Diproyeksi Alami Tekanan Sementara

Market news editor Anggie Ariesta
31/01/2026 06:00 WIB
Pengunduran diri pucuk pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai akan memberikan sedikit gejolak di perdagangan pekan depan.
Otoritas Bursa Mundur di Tengah Sentimen MSCI, Pasar Diproyeksi Alami Tekanan Sementara. Foto: iNews Media Group.
Otoritas Bursa Mundur di Tengah Sentimen MSCI, Pasar Diproyeksi Alami Tekanan Sementara. Foto: iNews Media Group.

IDXChannelPengunduran diri pucuk pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai akan memberikan sedikit gejolak di awal perdagangan pekan depan.

Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai investor kemungkinan besar akan bereaksi terhadap berita pengunduran diri para petinggi otoritas bursa. Namun, dia meyakini tekanan tersebut hanya bersifat sementara sebelum pasar masuk ke fase wait and see.

"Di awal market mungkin ada sedikit tekanan jual, karena kelihatannya berturut-turut gitu. Tapi kalau saya rasa itu hanya jangka pendek. Pasti akan wait and see sih, menunggu kepastian siapa penerus-penerusnya atau pengganti-penggantinya," kata Reydi saat dihubungi, Jumat (30/1/2026).

Terkait pengunduran diri para petinggi bursa, Reydi memandang hal ini sebagai upaya penyegaran bagi pasar modal Indonesia di tengah sentimen pasar yang memburuk beberapa hari terakhir imbas kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara rebalancing saham-saham Indonesia. Hal ini memicu kerentanan kepercayaan investor global terhadap transparansi IHSG.

"Menurut saya mungkin memang itu yang terbaik keputusannya untuk keberlanjutan pasar modal. Supaya kan dari kemarin ada kejadian trading halt yang sampai dua hari berturut-turut gitu kan. Kepercayaan investor global juga mulai rentan mempertanyakan transparansi di IHSG. Jadi sepertinya kita perlu wajah baru yang ke-refresh," ujar Reydi.

Meski pasar sempat mengalami penurunan tajam hingga memicu trading halt, Reydi menilai situasi ini tidak se-dahsyat krisis masa awal pandemi. Dia berpendapat bahwa kepanikan yang terjadi lebih disebabkan oleh investor yang belum sepenuhnya mencerna maksud di balik keputusan MSCI.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement