Menurut Phintraco, pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor, mulai dari depresiasi rupiah, kenaikan BI Rate, dampak rebalancing indeks MSCI dan FTSE Russell, hingga ketidakpastian terkait beberapa kebijakan pemerintah.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan mencermati sejumlah agenda penting, antara lain hasil MSCI Market Accessibility Review Indonesia, rebalancing FTSE Russell, implementasi kebijakan ekspor, serta rencana revisi tarif royalti sektor pertambangan.
Meski demikian, Phintraco masih melihat prospek IHSG pada 2026 tetap ditopang oleh potensi pertumbuhan laba emiten.
Untuk strategi investasi, Phintraco merekomendasikan investor mencermati saham-saham di sektor perbankan, minyak dan gas, makanan dan minuman, pertambangan logam, serta semen.
Soal MSCI, indeks global ini dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review pada sekitar 18 Juni dan Annual Market Classification Review pada sekitar 23 Juni.