"Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer dalam waktu dekat," tulis Phintraco.
Di dalam negeri, ekonomi Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan pada kuartal I-2026. Konsumsi rumah tangga yang kuat, peningkatan belanja pemerintah, dan pemulihan aktivitas manufaktur menjadi penopang utama pertumbuhan.
Namun, sejumlah tantangan masih membayangi perekonomian domestik. Pelemahan rupiah hingga menyentuh level terendah Rp18.049 per USD per Kamis (4/6/2026), arus keluar modal asing, dan melebarnya defisit neraca pembayaran menjadi sumber tekanan utama.
Di saat yang sama, kenaikan inflasi dan meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah mendorong Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Tekanan tersebut turut tercermin pada pergerakan pasar saham. Phintraco mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot 32,46 persen sepanjang tahun berjalan hingga berada di level 5.8,39,78 pada Kamis (4/6), di kisaran level terendah sejak Mei 2021.