IDXChannel - Pasar valuta asing (valas) cenderung tenang pada Rabu (25/3/2026). Para trader masih hati-hati terhadap upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa AS membuat kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran. Namun, pihak Teheran membantah adanya negosiasi langsung, sehingga investor masih waspada.
Melansir Reuters, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang, terakhir naik 0,13 persen ke level 99,317, sementara euro relatif tidak berubah di USD1,1603.
Pound Inggris melemah 0,16 persen ke USD1,3388 setelah data menunjukkan inflasi harga konsumen Inggris tetap di tingkat tahunan 3,0 persen pada Februari, sama seperti Januari. Namun, inflasi secara umum diperkirakan meningkat karena perang di Timur Tengah mendorong kenaikan harga.
Terhadap yen, dolar AS naik tipis 0,2 persen ke 158,99 setelah risalah rapat kebijakan Bank of Japan Januari menunjukkan banyak anggota dewan melihat perlunya terus menaikkan suku bunga, tanpa menetapkan kecepatan tertentu.
Dolar Australia melemah 0,33 persen ke USD0,697 setelah rilis data inflasi Februari yang menunjukkan kenaikan 3,7 persen sebelum dimulainya perang AS-Israel dengan Iran, sedikit lebih lambat dari perkiraan analis.
Meskipun pasar masih memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga AS tahun ini, ekspektasi pengetatan kebijakan mulai meningkat.
Kontrak berjangka Fed funds kini menunjukkan peluang 26,1 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve pada akhir Desember, menurut alat FedWatch milik CME Group.
Sebelumnya, Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan bank sentral kemungkinan perlu mempertahankan suku bunga tetap stabil untuk beberapa waktu sebelum pemangkasan lebih lanjut dianggap layak. Dia juga menyoroti inflasi yang masih di atas target 2 persen serta risiko dari konflik di Timur Tengah.
Pasar obligasi pulih setelah minggu yang bergejolak, dengan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun turun 3,4 basis poin ke 4,356 persen.
"Harga minyak yang lebih tinggi menambah ekspektasi tekanan inflasi yang meningkat dan kebijakan moneter yang lebih ketat," tulis analis dari Westpac.
(NIA DEVIYANA)