IDXChannel – Harga emas dinilai mulai kehilangan momentum setelah sempat mencetak reli kuat sepanjang Agustus 2026. Di sisi lain, harga batu bara termal dan kokas justru melanjutkan penguatan seiring tekanan dari sisi pasokan.
Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dalam riset yang terbit pada 3 September 2026 mengatakan harga emas sempat melonjak hingga sekitar USD4.600 per troy ounce pada Agustus 2026, atau naik sekitar 15 persen dibandingkan Juli 2026.
Kenaikan tersebut sejalan dengan pandangan bullish Indo Premier Sekuritas terhadap emas, terutama di tengah meningkatnya risiko keberlanjutan fiskal Amerika Serikat (AS).
Namun, reli emas mulai kehilangan tenaga setelah Ketua Federal Reserve (The Fed) memberikan pernyataan hawkish dalam simposium Jackson Hole. Momentum tersebut juga beriringan dengan kenaikan harga minyak mentah dan produk olahan minyak.
Harga diesel bahkan mencatat crack spread di atas USD100 per barel akibat gangguan yang masih berlangsung di Selat Hormuz.
Meski demikian, Indo Premier Sekuritas masih mempertahankan pandangan bullish terhadap emas.
Koreksi harga emas saat ini dinilai justru dapat menjadi peluang untuk masuk, terutama setelah utang nasional Negeri Paman Sam telah menembus USD40 triliun.
Menurut Ryan, langkah Departemen Keuangan AS yang menggandakan porsi pembelian kembali obligasi berjangka panjang berpotensi membuat kenaikan suku bunga justru meningkatkan beban bunga pemerintah akibat kebutuhan penerbitan US Treasury bills yang lebih tinggi.
Kondisi tersebut diperkirakan dapat menekan indeks dolar AS (DXY) dalam jangka menengah hingga panjang, yang pada akhirnya menjadi katalis positif bagi harga emas.
Batu Bara Termal dan Kokas Menguat
Sementara itu, harga batu bara termal dan batu bara kokas masing-masing melonjak sekitar 3-9 persen secara bulanan sepanjang Agustus 2026.
Penguatan tersebut terutama didorong oleh penurunan produksi batu bara China sebesar 10 persen secara bulanan pada Juli 2026. Penurunan produksi terjadi setelah pemerintah meningkatkan inspeksi keselamatan tambang menyusul insiden di salah satu tambang batu bara di Shanxi.
Untuk batu bara termal, Indo Premier Sekuritas masih mempertahankan pandangan bullish karena tekanan pasokan diperkirakan berlanjut.
Setidaknya terdapat tiga faktor yang menjadi penopang, yakni penurunan produksi domestik China, kondisi kekeringan yang memengaruhi aliran sungai di Indonesia, serta potensi peningkatan permintaan menjelang musim dingin.
Permintaan musim dingin diperkirakan meningkat di tengah rendahnya persediaan gas dan penurunan produksi energi terbarukan di Eropa, terutama dari pembangkit listrik tenaga nuklir dan hidro.
Di antara perusahaan tambang yang berada dalam cakupan riset, Indo Premier Sekuritas menilai PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) relatif lebih terlindungi dari dampak kekeringan sungai.
Sementara untuk batu bara kokas, Indo Premier Sekuritas juga masih memberikan pandangan bullish. Namun, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dinilai lebih sulit menikmati manfaat kenaikan harga karena terdampak kekeringan di bagian hulu Sungai Barito.
Nikel Paling Kurang Disukai
Berbeda dengan emas dan batu bara, nikel menjadi komoditas yang paling kurang disukai Indo Premier Sekuritas.
Harga bijih nikel kini telah bergerak mendekati Harga Patokan Mineral (HPM), dengan premi hanya sekitar USD1 per wet metric ton (wmt) untuk kadar 1,6 persen.
Kondisi tersebut terjadi seiring membaiknya produksi bijih nikel akibat cuaca yang lebih kering.
Bahkan, berdasarkan pemeriksaan lapangan Indo Premier Sekuritas hingga Agustus 2026, belum ada perusahaan tambang yang secara resmi menerima tambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Meski demikian, pasar mulai diramaikan oleh kabar mengenai potensi kekurangan air yang dapat menekan produksi mixed hydroxide precipitate (MHP).
Tekanan tersebut semakin menjadi perhatian karena profitabilitas MHP telah memburuk dan berpotensi mencapai titik impas atau mengalami kerugian setelah memperhitungkan biaya bunga.
Secara keseluruhan, harga produk hilir nikel seperti nickel pig iron (NPI) dan MHP masih relatif bertahan sepanjang Agustus 2026, dengan pergerakan harga yang cenderung datar secara bulanan.
Thermal Coal Jadi Pilihan Utama
Melihat perkembangan tersebut, Indo Premier Sekuritas menempatkan batu bara termal sebagai komoditas yang paling disukai, disusul emas, kemudian logam dasar.
Untuk sektor batu bara, AADI dan PTBA menjadi pilihan utama karena dinilai memiliki eksposur yang lebih kecil terhadap gangguan akibat kekeringan sungai.
Kedua saham tersebut juga dinilai memiliki valuasi yang relatif menarik, dengan proyeksi rasio harga terhadap laba (P/E) FY2026F sekitar 5-6 kali.
Dari sisi dividen, AADI menawarkan dividend yield sekitar 8 persen, dengan potensi tambahan sekitar 3 persen dari penjualan Kestrel. Sementara PTBA memiliki dividend yield sekitar 7 persen.
Untuk emas, Indo Premier Sekuritas tetap menyukai PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
Logam dasar menjadi pilihan paling rendah karena adanya potensi koreksi harga setelah tambahan kuota RKAB disetujui. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.