IDXChannel - Prospek pemulihan industri otomotif pada semester II-2026 menjadi salah satu penopang saham PT Astra International Tbk (ASII).
Selain pemulihan penjualan mobil, program pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp8 triliun dan ketidakpastian insentif kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) turut menjadi katalis yang diperhatikan pasar.
Analis UOB Kay Hian Sekuritas Willinoy Sitorus dan Alden Gabriel Lam dalam riset 5 Oktober 2026 menyebutkan, katalis ASII dalam periode Juli 2026 hingga Juli 2027 antara lain gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), program buyback Rp8 triliun, serta berlanjutnya penundaan insentif BEV.
Pemerintah sebelumnya dijadwalkan mengumumkan insentif BEV pada 1 Agustus 2026. Namun, kebijakan tersebut kembali tertunda dan hingga kini belum ada kepastian mengenai waktu pengumumannya.
Berdasarkan indikasi terbaru, paket insentif tersebut akan mencakup 500.000 unit BEV dan 500.000 sepeda motor listrik, atau total 1 juta unit kendaraan.
Skema yang disiapkan berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dengan besaran 40 persen hingga 100 persen.
Skema tersebut masih dalam tahap finalisasi, termasuk kemungkinan adanya perlakuan berbeda antara kendaraan dengan baterai berbasis nikel dan lithium.
Di sisi lain, perkembangan penjualan BEV menunjukkan persaingan yang semakin ketat.
Sejumlah model baru yang diluncurkan dalam GIIAS menawarkan harga yang cukup kompetitif, terutama pada kisaran Rp200 juta hingga Rp500 juta per unit.
UOB Kay Hian menilai, jika permintaan BEV tetap kuat, terdapat kemungkinan insentif tersebut tidak diperpanjang.
Sementara itu, pemulihan industri kendaraan roda empat diperkirakan berlanjut pada semester II-2026. Target penjualan mobil nasional 2026 dipertahankan sebesar 850.000 unit, sementara ASII masih menargetkan pangsa pasar sekitar 50 persen.
Meski demikian, margin manufaktur diperkirakan melemah pada paruh kedua tahun ini, terutama menjelang akhir tahun.
Tekanan berasal dari nilai tukar dan biaya bahan baku, sementara kenaikan harga jual diperkirakan tetap terbatas akibat persaingan yang ketat.
Sebaliknya, margin bisnis penjualan diperkirakan tetap terjaga berkat perbaikan bauran produk, disiplin pemberian diskon, serta meningkatnya kontribusi bisnis purnajual.
Pada bisnis jasa keuangan, kenaikan suku bunga diperkirakan hanya berdampak terbatas dalam jangka pendek karena biaya pendanaan menyesuaikan secara bertahap. Dalam jangka panjang, tekanan tersebut dapat dikelola melalui optimalisasi pendanaan, penetapan harga berbasis risiko, dan fokus pada profitabilitas dibandingkan pertumbuhan kredit yang agresif.
Segmen alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi (HEMCE) juga diperkirakan membaik pada semester II 2026.
Beban penurunan nilai bisnis panas bumi telah dibukukan pada semester I, sementara produksi emas Martabe diperkirakan kembali normal menuju target setahun penuh 60.000 ons.
Potensi tambahan juga datang dari bisnis batu bara. Kuota batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) telah dinaikkan dari 7,5 juta ton menjadi 12,4 juta ton, sehingga memberikan ruang bagi peningkatan kinerja segmen tersebut.
Dengan prospek tersebut, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli untuk ASII dengan target harga berbasis sum-of-the-parts (SOTP) sebesar Rp7.100 per saham.
Target tersebut mencerminkan valuasi 10,1 kali price to earnings (PE) 2026.
Risiko utama terhadap rekomendasi tersebut adalah potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut yang dapat meningkatkan biaya pembiayaan serta pelemahan daya beli masyarakat. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.