Meski begitu, Bambang menegaskan pemenuhan kebutuhan pasar domestik tetap menjadi prioritas prseroan, termasuk untuk mendukung ketahanan energi nasional. Hingga akhir Juni, penjualan kepada Grup PLN mencapai 7,78 juta ton.
Secara keseluruhan, realisasi penjualan untuk kebutuhan Domestic Market Obligation (DMO) mencapai sekitar 55 persen dari total produksi, atau telah melampaui ketentuan minimal DMO sebesar 25 persen yang ditetapkan pemerintah. Hal ini menunjukkan komitmen PTBA dalam menjaga pasokan batu bara bagi kebutuhan energi nasional, sembari tetap mengoptimalkan peluang di pasar ekspor.
Dari sisi angkutan, PTBA berhasil mengangkut 18,15 juta ton batu bara hingga Juni 2026. Volume angkutan melalui jalur kereta api mencapai 17,47 juta ton, mencerminkan dukungan infrastruktur logistik yang andal terhadap kelancaran distribusi batu bara Perseroan.
Bambang menambahkan, perseroan juga terus menerapkan selective mining untuk menjaga efektivitas kegiatan penambangan. PTBA membukukan stripping ratio sebesar 5,26x, sehingga masih berada dalam kisaran target tahunan sebesar 5,63x.
Untuk mendukung keberlanjutan operasional dan pengembangan usaha, PTBA juga terus merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) yang dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur logistik, termasuk proyek angkutan batu bara Tanjung Enim–Kramasan serta pembangunan Inpit Conveyor Banko, guna meningkatkan kinerja operasional secara berkelanjutan.