Menurut analis, pertumbuhan penjualan domestik yang kuat menjadi katalis utama, sementara risiko kenaikan biaya dinilai sudah mulai tercermin dalam harga saham setelah kapitalisasi pasar agregat sektor ini turun sekitar 18 persen sejak Maret 2026, bertepatan dengan dimulainya perang Amerika Serikat (AS)-Iran.
“Dari sisi positioning dana, investor domestik sudah memiliki posisi yang kuat di sektor ini. Oleh karena itu, pembeli tambahan (incremental buyers) yang berpotensi menopang pergerakan saham diperkirakan berasal dari investor asing,” tulis analis Indo Premier.
Indo Premier juga mempertahankan urutan saham unggulan (top picks), yakni KLBF, MYOR, ICBP, CMRY, UNVR, dan SIDO.
Namun, analis mengingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah serta pelemahan daya beli masyarakat masih menjadi risiko utama bagi prospek sektor ini. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.