Perbaikan tersebut didorong penurunan harga sejumlah bahan baku utama, seperti kopi, gula, dan kakao.
ICBP juga berhasil membukukan ekspansi GPM sebesar 38 basis poin.
Pertumbuhan penjualan konsolidasi yang mencapai 15,7 persen mampu mengimbangi dampak kenaikan harga crude palm oil (CPO).
Sebaliknya, KLBF, CMRY, dan UNVR mengalami penurunan margin laba kotor akibat perubahan bauran produk, kenaikan harga susu skim, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah, serta meningkatnya biaya kemasan yang dipengaruhi lonjakan harga minyak.
Tekanan terbesar dialami SIDO. Margin laba kotor perseroan turun hampir 10 poin persentase menjadi 50,5 persen setelah penjualan produk herbal, yang memiliki margin lebih tinggi, anjlok 54,8 persen secara tahunan.
Indo Premier memperkirakan tekanan terhadap margin laba semakin terasa pada semester II-2026.