Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran. Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan Teheran belum menyetujui naskah kesepakatan apa pun dengan AS, mengutip sumber yang mengetahui proses negosiasi tersebut.
Selama konflik berlangsung, Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima pengiriman minyak dunia melalui laut sempat mengalami gangguan serius. Namun, pasar mulai berspekulasi bahwa risiko pasokan global akan mereda apabila kesepakatan damai benar-benar tercapai.
Kepala Strategi Makro dan Perdagangan Lintas Aset Buffalo Bayou Commodities, Frank Monkam mengatakan, perubahan sikap Washington yang kerap berganti dari ancaman militer menjadi dorongan perdamaian dalam waktu singkat dinilai membuat pelaku pasar kesulitan mengambil posisi.
"Pesan yang berubah-ubah dari pemerintahan Trump membatasi kemampuan trader minyak untuk menempatkan risiko secara percaya diri di pasar," ujarnya.
Harga minyak kini telah turun lebih dari seperempat dibandingkan puncaknya saat konflik Iran memanas. Aktivitas perdagangan juga relatif sepi, tercermin dari posisi open interest kontrak Brent yang turun ke level terendah sejak Maret 2025.