Head of Asia-Pacific (ex-China) sekaligus Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan menilai, Indonesia menunjukkan pergeseran pola pikir ke arah investasi yang lebih strategis. Alih-alih menjual emas saat harga tinggi, banyak konsumen memilih memanfaatkannya sebagai agunan untuk memperoleh likuiditas melalui mekanisme gadai.
“Perilaku ini memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat dari kenaikan harga sambil tetap mempertahankan kepemilikan emas. Ini menegaskan peran emas sebagai aset finansial yang diandalkan rumah tangga Indonesia,” ujar Shaokai Fan dalam keterangan resmi, Rabu (4/2/2026).
Dari sisi pasokan, total suplai emas global juga mencetak rekor baru. Produksi tambang meningkat menjadi 3.672 ton, sementara pasokan dari daur ulang naik moderat sebesar 3 persen. Meski harga emas tinggi, volume daur ulang relatif terbatas karena investor dan rumah tangga memilih menahan emas mereka, mencerminkan kepercayaan terhadap nilai jangka panjang logam mulia tersebut.
World Gold Council menambahkan, di Indonesia kombinasi antara keterbatasan pasokan global dan peran emas sebagai aset budaya yang mengakar kuat membuat emas tetap menjadi instrumen strategis. Hal ini tercermin dari permintaan yang konsisten menjelang periode perayaan, seperti Idulfitri, ketika likuiditas rumah tangga meningkat berkat Tunjangan Hari Raya (THR) dan tradisi pemberian hadiah.
Senior Markets Analyst World Gold Council, Louise Street mengungkapkan, 2025 ditandai oleh lonjakan permintaan dan kenaikan harga signifikan, dengan konsumen dan investor memilih mempertahankan kepemilikan emas di tengah risiko ekonomi dan geopolitik yang telah menjadi new normal.