Meski demikian, SIG mampu menjaga profitabilitas melalui berbagai program pengelolaan biaya dan operational excellence, sehingga beban pokok pendapatan tercatat turun 4,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sedangkan beban usaha perusahaan juga tercatat 4,3 persen lebih rendah dari realisasi tahun lalu.
Di samping inisiatif efisiensi biaya, SIG juga berfokus pada pengelolaan arus kas sehingga kondisi likuiditas dan solvabilitas dapat terjaga.
"Upaya-upaya tersebut mendukung kemampuan SIG untuk dapat meminimalkan dampak kontraksi permintaan semen, sehingga SIG dapat mempertahankan margin EBITDA sebesar 20,7 persen, dan mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp472 miliar pada triwulan I-2024," tutur Vita.
Ke depan, Vita menyampaikan, SIG optimistis bahwa industri semen domestik masih memiliki prospek yang baik.