IDXChannel – Konsumsi masyarakat Indonesia menunjukkan perbaikan pada kuartal IV-2025, ditopang faktor musiman dan dorongan stimulus pemerintah. Meski demikian, penguatan ini dinilai belum mencerminkan pemulihan yang solid secara struktural.
Riset CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) yang terbit pada 10 April 2026 mencatat, berdasarkan analisis terhadap 91 emiten dengan 112 segmen konsumsi, pendapatan sektor Fast-moving consumer goods (FMCG) tumbuh sekitar 8 persen secara tahunan (yoy) pada 4Q25, setelah cenderung stagnan sejak awal tahun.
Kinerja ini didorong oleh penyaluran bantuan tunai serta efek lanjutan dari belanja musim perayaan awal 2026.
Segmen bahan pokok (grocery) menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 8 persen yoy, diikuti segmen mass market dan kelompok berpendapatan rendah non-FMCG yang tumbuh 6 persen yoy.
Peningkatan terlihat pada belanja data internet, kebutuhan rumah tangga, gaya hidup, bahan pokok, hingga rokok, menggambarkan arah penggunaan dana bantuan langsung.
Sejumlah emiten seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Duta Intidaya Tbk (DAYA), PT Akasha Wira International Tbk (ADES), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), dan PT City Retail Developments Tbk (NIRO) mencatat pertumbuhan pendapatan signifikan, berkisar 9 persen hingga 42 persen yoy, sejalan dengan dampak stimulus tersebut.
Namun, perlambatan masih terlihat pada segmen personal care sejak kuartal III-2025, terutama akibat melemahnya penjualan popok, kosmetik mass market, dan wewangian.
Di sisi lain, taman hiburan serta ritel makanan dan minuman (F&B) mencatat penurunan terdalam, mencerminkan pengetatan belanja non-esensial di luar rumah.
Untuk kelompok menengah-atas, konsumsi hanya tumbuh moderat sekitar 3 persen yoy pada 4Q25, tertinggal dari segmen mass market.
Pertumbuhan ditopang oleh toko spesialis seperti fesyen dan ponsel (seperti iPhone 17), segmen kesehatan dan kecantikan, restoran, mal kelas menengah, serta penjualan otomotif.
Sebaliknya, perlambatan terbesar terjadi pada penjualan properti, perangkat elektronik berbasis IoT, perjalanan udara, dan perlengkapan gaya hidup.
CGSI menilai penguatan konsumsi di akhir 2025 lebih bersifat sementara karena didorong insentif.
Tren ini diperkirakan berlanjut pada kuartal I-2026 seiring momentum Ramadhan, meski dengan pertumbuhan lebih terbatas.
Memasuki kuartal II-2026, prospek konsumsi cenderung lebih berhati-hati seiring efisiensi anggaran pemerintah dan berkurangnya faktor musiman yang biasanya menopang belanja masyarakat.
Untuk strategi investasi, CGSI merekomendasikan saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), dengan mempertahankan rating overweight pada sektor consumer goods.
“Kami kemali menegaskan rekomendasi overweight pada sektor ini, seiring ekspektasi pemulihan konsumsi yang berlangsung secara bertahap, ditopang valuasi yang masih relatif menarik,” kata CGSI.
Katalis utama berasal dari potensi tambahan stimulus dan penciptaan lapangan kerja, sementara risiko utama mencakup gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan perlambatan belanja pemerintah. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.