Dari eksternal, Presiden AS Donald Trump menyatakan membatalkan rencana serangan militer besar-besaran AS terhadap Iran setelah Teheran dan beberapa negara Timur Tengah meminta waktu untuk melakukan negosiasi.
"Trump mengatakan bahwa pembicaraan akan dimulai pada hari Senin dan ditujukan untuk membuka kembali Selat Hormuz serta memastikan Iran meninggalkan ambisi nuklirnya," kata Ibrahim.
Pernyataan tersebut memicu penurunan tajam harga minyak sebesar lebih dari USD5 per barel pada awal perdagangan di Asia, sekaligus meredakan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan akan mempertahankan tingkat inflasi yang tinggi dan memperkuat alasan bagi penerapan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Selain itu, pasar masih fokus terhadap prospek The Fed dan data ketenagakerjaan AS, di mana para investor tetap bersikap hati-hati setelah tiga pejabat menyatakan perbedaan pendapat dan kembali menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi.
"Mereka berpendapat bahwa kenaikan suku bunga segera diperlukan demi menjaga kredibilitas bank sentral dalam upaya pengendalian inflasi," ujar Ibrahim.