Di periode yang sama, posisi liabilitas PPRE mencapai Rp4,65 triliun dengan rincian liabilitas jangka pendek Rp4,09 triliun dan liabilitas jangka panjang Rp553 miliar. Sementara aset PPRE tercatat sebesar Rp6,78 triliun.
Terkait kinerja LMA, sepanjang tahun lalu, perusahaan meraih pendapatan sebesar Rp2,03 triliun. Laba kotor mencapai Rp449 miliar dengan laba bersih Rp225,76 miliar. Aset mencapai Rp3,68 triliun dengan liabilitas Rp1,51 triliun dan ekuitas Rp2,17 triliun.
Angka tersebut mencerminkan bahwa LMA adalah perusahaan yang sehat. Setelah divestasi LME, total aset dan ekuitas PPRE diperkirakan menyusut sebesar Rp1,20 triliun.
Namun, PPRE saat ini tengah menghadapi tekanan likuiditas sekaligus utang yang mendekati jatuh tempo pada tahun 2026. Perseroan memerlukan dana untuk memenuhi cash deficiency support (CDS) dan membayar kewajiban jatuh tempo yang meliputi utang bank jangka pendek dan panjang, angsuran leasing, serta kewajiban lainnya.
Meski aset dan ekuitas PPRE menyusut, divestasi ini akan membuat keuangan jauh lebih efisien. Dengan pelunasan pokok pinjaman bank, beban bunga akan berkurang sehingga laba bersih diharapkan bisa meningkat.