Kideco sendiri merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia dengan wilayah tambang yang berlokasi di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Kegiatan eksplorasi dimulai pada 1982, sedangkan produksi komersial dimulai pada 1993 menggunakan metode tambang terbuka (open pit). Saat ini, Kideco mengoperasikan tiga area tambang, yakni Roto, Samurangau, dan Susubang.
Batu bara yang diproduksi Kideco memiliki nilai kalori 4.200-5.240 Kcal per kilogram dengan kandungan abu dan sulfur yang rendah. Karakteristik tersebut membuat produk Kideco menjadi salah satu acuan kualitas di pasar batu bara untuk pembangkit listrik dunia.
Sepanjang 2025, produksi batu bara Kideco mencapai 30,5 juta ton, lebih rendah dibandingkan rekor produksi tertinggi pada 2014 yang mencapai 40,3 juta ton. Pada periode yang sama, penjualan batu bara tercatat 30,8 juta ton, dengan komposisi 58,5 persen untuk pasar ekspor dan 41,5 persen untuk pasar domestik.
China masih menjadi pasar ekspor terbesar dengan volume sekitar 10 juta ton atau setara 32,4 persen dari total penjualan 2025. Posisi berikutnya ditempati India dengan penjualan sekitar 2,2 juta ton atau sekitar 7,1 persen dari total penjualan.
Indika Energy mulai menjadi pemegang saham Kideco pada 2004 melalui akuisisi 41 persen saham. Kepemilikannya kemudian meningkat menjadi 46 persen pada 2006.