sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Program B50 Jadi Katalis Anyar Sektor CPO, Empat Saham Ini Jadi Sorotan

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
12/03/2026 11:17 WIB
Program mandatori biodiesel B50 berpotensi menjadi penopang baru permintaan minyak sawit mentah (CPO) di tengah tekanan pada ekspor.
Program B50 Jadi Katalis Anyar Sektor CPO, Empat Saham Ini Jadi Sorotan. (Foto: Freepik)
Program B50 Jadi Katalis Anyar Sektor CPO, Empat Saham Ini Jadi Sorotan. (Foto: Freepik)

IDXChannel – Program mandatori biodiesel B50 berpotensi menjadi penopang baru permintaan minyak sawit mentah (CPO) di tengah tekanan pada ekspor.

Kebijakan ini dinilai dapat memperkuat konsumsi domestik sekaligus menjaga keseimbangan pasar sawit nasional.

BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang dirilis Kamis (12/3/2026) menjelaskan, pemerintah juga menaikkan pungutan ekspor CPO menjadi sekitar 12,5 persen sejak Maret 2026.

Kebijakan tersebut bertujuan memperkuat dana subsidi biodiesel yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Menurut analis BRI Danareksa, kenaikan pungutan memang berpotensi menekan margin eksportir. Namun di sisi lain, langkah tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan konsumsi CPO di dalam negeri.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan implementasi B50 dapat meningkatkan kebutuhan CPO domestik sekitar 3,5 juta hingga 4 juta ton. Tambahan permintaan itu berasal dari peningkatan mandatori biodiesel dari B40 menjadi B50 pada 2026.

Dengan produksi CPO Indonesia yang diperkirakan berada di kisaran 48 juta hingga 50 juta ton per tahun, peningkatan konsumsi domestik berpotensi mengurangi volume ekspor.

Meski demikian, implementasi B50 masih menghadapi sejumlah tantangan.

Biaya produksi biodiesel diperkirakan berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp16.500 per liter, lebih tinggi dibandingkan harga solar yang sekitar Rp10.500 hingga Rp11.500 per liter. Selisih harga ini membuat program biodiesel masih membutuhkan dukungan subsidi pemerintah.

Selain itu, analis juga menyoroti beberapa tantangan lain seperti kebutuhan impor metanol, keberlanjutan pendanaan subsidi, serta kesiapan teknis kendaraan. Karena itu, implementasi B50 diperkirakan akan dilakukan secara bertahap.

Di tengah dinamika tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham perkebunan yang dinilai berpotensi mendapat manfaat dari peningkatan permintaan CPO.

Saham yang menjadi pilihan antara lain PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), serta PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP).

Pengaruh Lonjakan Minyak Mentah

Sementara itu, harga minyak mentah yang bertahan tinggi berpotensi mendorong Indonesia mempercepat penerapan program biodiesel B50, yakni kebijakan pencampuran 50 persen bahan bakar berbasis minyak sawit dalam solar.

Analis Ong Chee Ting dari Maybank menilai, dikutip The Wall Street Journal, Rabu (11/3) lonjakan harga minyak dunia di atas USD100 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah membuat hubungan harga antara minyak mentah dan biofuel berbasis sawit semakin kuat.

Menurut dia, kenaikan harga energi membuat program mandat biofuel menjadi lebih ekonomis bagi pemerintah.

Dalam kondisi tersebut, Indonesia berpotensi beralih dari kebijakan saat ini, yakni B40, menuju B50.

“Peralihan ke B50 dapat mengurangi impor solar dan membantu menghemat devisa,” tulis Ong dalam risetnya.

Ia menambahkan, peningkatan campuran biodiesel berbasis sawit juga berpotensi mendorong permintaan serta harga minyak kelapa sawit mentah (CPO).

Ong mempertahankan proyeksi harga rata-rata CPO pada 2026 di level 4.100 ringgit Malaysia per ton. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement