Penurunan ini terutama dipicu oleh lebih rendahnya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe milik PT Agincourt Resources yang sempat menghentikan operasionalnya. Perseroan menyebut operasional tambang tersebut telah kembali berjalan pada kuartal II-2026.
Setelah memperhitungkan pos non-berulang, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 88 persen menjadi Rp956 miliar, dari Rp8,13 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perseroan mencatat non-recurring items sebesar Rp3,3 triliun, terutama berasal dari penurunan nilai investasi pada Supreme Geothermal Energy serta pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.
Dari sisi neraca, per 30 Juni 2026 Perseroan membukukan utang bersih Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5 persen, berbalik dari posisi kas bersih sebesar Rp7,7 triliun pada akhir 2025.
Perubahan tersebut terutama mencerminkan dampak akuisisi perusahaan tambang emas serta pelaksanaan program pembelian kembali saham (buyback). (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.