Namun, rancangan persyaratan yang muncul kemudian menunjukkan masih terdapat perbedaan besar antara pihak-pihak yang terlibat.
Iran disebut menginginkan kendali atas rute pelayaran, pungutan sebesar 5-7 persen dari nilai kargo, serta kewenangan untuk membatasi kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat maupun Israel.
Sementara itu, Oman mengusulkan pungutan sekitar 3 persen dan Washington menginginkan tidak adanya biaya transit.
Kondisi tersebut berpotensi membuat premi risiko minyak bertahan lebih lama. Kilang-kilang selama ini menutup kekurangan pasokan akibat gangguan di Hormuz dengan menarik persediaan dan mengalihkan kargo.
Namun, strategi tersebut berisiko semakin sulit dipertahankan apabila lalu lintas kapal melalui selat belum kembali normal.