sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Proyeksi Harga Minyak Dunia: Brent Berpeluang Naik, Risiko Hormuz Masih Membayangi

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
10/08/2026 07:03 WIB
Harga minyak dunia berpeluang melanjutkan penguatan setelah ketidakpastian terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Proyeksi Harga Minyak Dunia: Brent Berpeluang Naik, Risiko Hormuz Masih Membayangi. (Foto: Magnific)
Proyeksi Harga Minyak Dunia: Brent Berpeluang Naik, Risiko Hormuz Masih Membayangi. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak dunia berpeluang melanjutkan penguatan setelah ketidakpastian terkait pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali mendorong kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Analis FXEmpire James Hyerczyk menilai reli harga minyak pada perdagangan Jumat (7/8/2026) mencerminkan perubahan sentimen pasar setelah pembicaraan mengenai kesepakatan pelayaran melalui Selat Hormuz belum menghasilkan kesepakatan yang dapat segera memulihkan arus pengiriman minyak.

Kontrak Brent Oktober ditutup naik 1,3 persen menjadi USD83,55 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) September menguat 1,15 persen menjadi USD78,18 per barel.

Meski demikian, secara mingguan Brent masih turun lebih dari 8 persen dan WTI melemah lebih dari 7 persen.

Menurut Hyerczyk, pasar sebelumnya terlalu cepat memperhitungkan tercapainya kesepakatan antara Iran dan Oman sehingga harga minyak tertekan tajam pada awal pekan.

Namun, rancangan persyaratan yang muncul kemudian menunjukkan masih terdapat perbedaan besar antara pihak-pihak yang terlibat.

Iran disebut menginginkan kendali atas rute pelayaran, pungutan sebesar 5-7 persen dari nilai kargo, serta kewenangan untuk membatasi kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat maupun Israel.

Sementara itu, Oman mengusulkan pungutan sekitar 3 persen dan Washington menginginkan tidak adanya biaya transit.

Kondisi tersebut berpotensi membuat premi risiko minyak bertahan lebih lama. Kilang-kilang selama ini menutup kekurangan pasokan akibat gangguan di Hormuz dengan menarik persediaan dan mengalihkan kargo.

Namun, strategi tersebut berisiko semakin sulit dipertahankan apabila lalu lintas kapal melalui selat belum kembali normal.

Dari sisi proyeksi harga, Citigroup menaikkan perkiraan harga Brent kuartal III menjadi USD80 per barel dari sebelumnya USD75 per barel karena negosiasi berjalan lebih lambat dan gangguan pasokan berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Goldman Sachs juga memperkirakan Brent berada dalam kisaran USD80-90 per barel hingga terdapat kesepakatan Amerika Serikat-Iran yang terkonfirmasi atau terjadi eskalasi konflik.

Peluang Brent Uji Level USD88

Secara teknikal, Brent menunjukkan sinyal pemulihan setelah ditutup menguat untuk sesi ketiga berturut-turut. Harga berhasil kembali menembus moving average 50 hari (MA-50) di USD82,26 per barel.

Hyerczyk menilai level tersebut menjadi indikator penting bagi arah harga selanjutnya. Jika Brent mampu bertahan di atas MA-50, harga berpeluang bergerak menuju area USD84,90-88,25 per barel.

Namun, terdapat resistance pada USD86,33 dan USD91,36 sebelum harga berpotensi menguji level yang lebih tinggi.

Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level tersebut dapat membuka ruang bagi Brent untuk kembali menguji USD78,11 per barel.

Jika tekanan jual berlanjut, level USD75,56 yang merupakan moving average 200 hari (MA-200) menjadi perhatian berikutnya.

Sementara itu, WTI berada di sekitar USD78,18 per barel dan mulai mendekati MA-50 di USD79,03.

Penembusan berkelanjutan di atas level tersebut akan memperkuat sinyal bullish, dengan resistance awal di USD80,31 dan USD81,21.

Jika mampu melewati USD81,21, WTI berpotensi bergerak menuju USD84,54 per barel.

Sebaliknya, kegagalan menembus MA-50 dapat kembali menekan harga menuju USD77,20 hingga USD75,39 per barel. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement