Adapun optimisme Purbaya sejalan dengan langkah taktis yang dijalankan Bank Indonesia (BI). Sebelumnya, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea menyatakan bahwa pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp16.860 per USD pada Selasa (13/1/2026) lebih disebabkan oleh tekanan eksternal dan tensi geopolitik global.
BI telah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di berbagai pasar, termasuk pasar off-shore dan domestik.
"Stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder," kata Erwin.
Meskipun rupiah terdepresiasi sebesar 1,04 persen secara tahun berjalan (year-to-date), BI mencatat ketahanan eksternal Indonesia masih sangat kuat dengan posisi cadangan devisa mencapai USD156,5 miliar, yang cukup untuk menjadi penyangga (buffer) di tengah ketidakpastian moneter global.
(NIA DEVIYANA)