Untuk porsi obligasi global pemerintah Indonesia, Arief menilai instrumen tersebut menawarkan kombinasi menarik antara pendapatan tetap dan eksposur terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Ia menyoroti keberhasilan pemerintah menerbitkan obligasi global tenor lima tahun dan 10 tahun dalam denominasi dolar AS dan euro pada Mei 2026 dengan total penghimpunan dana USD2 miliar dan EUR1,25 miliar.
Permintaan investor mencapai sekitar tiga kali lipat dari nilai yang ditawarkan, mencerminkan tingginya kepercayaan terhadap kualitas kredit Indonesia.
Saat ini, obligasi global pemerintah Indonesia tenor lima tahun dalam denominasi dolar AS menawarkan yield to maturity sekitar 4,98 persen, sehingga dinilai lebih menarik dibanding sekadar menyimpan dana tunai dalam dolar AS.
Sementara itu, untuk alokasi emas fisik sebesar 20 persen, Sucor Sekuritas mengakui harga emas masih berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek.