Beberapa sentimen yang membayangi antara lain larangan investasi produk emas nonfisik (paper gold) bagi investor ritel di China, kenaikan persyaratan margin logam mulia di CME, serta peluang berlanjutnya kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Meski demikian, emas tetap dipandang sebagai aset strategis untuk melindungi nilai kekayaan dari pelemahan mata uang, inflasi, dan risiko geopolitik.
Selain itu, emas juga berfungsi sebagai instrumen diversifikasi yang dapat meningkatkan ketahanan portofolio terhadap gejolak pasar keuangan.
Di sisi saham, Sucor memilih emiten yang memiliki pendapatan dominan dalam mata uang asing, arus kas bebas yang kuat, serta risiko pembiayaan kembali (refinancing) yang rendah.
Menurut Arief, karakteristik tersebut membuat perusahaan lebih mampu bertahan menghadapi kondisi makro yang menantang sekaligus memanfaatkan peluang ketika kondisi membaik.