Meski demikian, dia mengingatkan bahwa kasus Indonesia saat ini tergolong belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga risiko hasil yang lebih buruk dari ekspektasi tetap terbuka.
Kondisi ini dinilai dapat membuat investor tetap waspada, terutama mendekati akhir April.
Dari sisi pasar, CGSI melihat skenario penurunan bobot moderat sudah sebagian besar tercermin dalam harga.
Dalam skenario tersebut, potensi arus keluar dana pasif diperkirakan berkisar USD1,1 miliar hingga USD2,1 miliar (sekitar Rp18,8 triliun hingga Rp35,9 triliun), tergantung besaran penurunan free float.
Sekitar USD1,4 miliar dinilai telah terdiskon (priced-in) di pasar, sejalan dengan skenario tersebut.