IDXChannel - PT Singaraja Putra Tbk (SINI) berencana menggelar rights issue dengan menerbitkan hingga 721,5 juta saham baru.
Meski harga pelaksanaan dan rasio belum diumumkan, langkah ini diproyeksikan menjadi bagian dari strategi ekspansi sekaligus perbaikan struktur keuangan perseroan.
Adapun dana hasil rights issue akan digunakan untuk tiga tujuan utama, yakni akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti dari PT Petrosea Tbk (PTRO) senilai sekitar Rp1,7 triliun, pelunasan lebih awal utang, serta modal kerja.
Rencana ini akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 26 Mei 2026. Namun, hingga saat ini perseroan belum mengungkapkan pihak pembeli siaga dalam aksi korporasi tersebut.
PT Kemilau Mulia Sakti sendiri merupakan perusahaan holding yang menaungi tambang batu bara di Kalimantan Timur melalui PT Cristian Eka Pratama.
Tambang tersebut memiliki cadangan (reserves) sekitar 72,9 juta ton dan sumber daya (resources) mencapai 134,5 juta ton, dengan umur tambang tersisa sekitar 15 tahun. Adapun batu bara yang dihasilkan tergolong berkalori rendah di kisaran 3.924-3.993 kcal/kg.
Meski demikian, kinerja keuangan perusahaan target masih mencatatkan kerugian. Hingga 2025, akumulasi rugi PT Kemilau Mulia Sakti meningkat menjadi Rp156 miliar dari sebelumnya Rp60 miliar pada 2024.
Rencana transaksi ini muncul di tengah langkah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) untuk mengakuisisi saham mayoritas SINI. Pada Desember 2025, CUAN melalui anak usahanya PT Kreasi Jasa Persada telah memulai negosiasi untuk meningkatkan kepemilikan menjadi minimal 51 persen. Per akhir Maret 2026, CUAN telah menguasai 19,74% saham SINI.
SINI sebelumnya menyatakan bahwa proses akuisisi oleh CUAN masih berada pada tahap awal, termasuk kaji tuntas, sehingga struktur dan nilai transaksi masih dapat berubah.
Dari sisi valuasi, dengan ekuitas PT Kemilau Mulia Sakti sekitar Rp351,3 miliar per 2025, rencana akuisisi ini mengindikasikan rasio price to book value (P/BV) sebesar 4,9 kali, lebih rendah dibandingkan P/BV PTRO yang mencapai 14,4 kali. Namun, rasio price to earnings (P/E) belum dapat dihitung mengingat perusahaan target masih merugi.
Stockbit pada Kamis (15/4/2026) menilai, aksi rights issue SINI berpotensi memperbaiki struktur permodalan secara signifikan. Dengan asumsi harga pelaksanaan di Rp5.000 per saham, dana yang dihimpun dapat mencapai sekitar Rp3,6 triliun, dengan potensi dilusi hingga 60 persen.
Jika skenario tersebut terealisasi, ekuitas SINI diperkirakan berbalik dari negatif Rp687 miliar menjadi positif sekitar Rp1,5 triliun.
Hal ini membuka peluang bagi saham SINI untuk keluar dari papan pemantauan khusus (FCA). Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada eksekusi operasional dari aset tambang yang diakuisisi.
Di sisi lain, PTRO akan memperoleh tambahan kas dari divestasi tersebut, meski berpotensi mencatatkan kerugian sekitar Rp100 miliar dibandingkan total investasi sebelumnya.
Kendati demikian, langkah ini dinilai positif karena memungkinkan PTRO untuk fokus pada bisnis inti jasa pertambangan (pure-play services) dengan profil pendapatan yang lebih stabil.
Sementara itu, bagi CUAN, transaksi ini dapat mengurangi kebutuhan kas untuk mengeksekusi rights issue SINI. Selain itu, struktur bisnis grup menjadi lebih jelas dengan pemisahan fokus antara jasa pertambangan melalui PTRO dan produksi batu bara melalui SINI.
(DESI ANGRIANI)