Meski demikian, Indo Premier menilai dampak langsung terhadap keseimbangan pasokan-permintaan global baru akan terasa jika terjadi skenario ekstrem.
Di antaranya serangan militer terhadap Pulau Kharg, fasilitas ekspor utama Iran yang berada sekitar 25 kilometer dari pesisir selatan Iran di Selat Hormuz, atau perubahan rezim yang memicu kekacauan domestik dan mengganggu produksi minyak.
Kemungkinan penutupan Selat Hormuz dinilai tidak realistis, baik secara fisik maupun geopolitik. Selat tersebut mengendalikan sekitar 20-25 persen aliran minyak global. Menurut Indo Premier, langkah itu justru berisiko merugikan sekutu-sekutu Iran di Timur Tengah.
Karena itu, wacana penutupan Selat Hormuz lebih bersifat ancaman retoris ketimbang skenario dasar.
Seiring perubahan dinamika tersebut, Indo Premier melakukan sedikit revisi terhadap proyeksi sektor minyak dan gas (migas) untuk tahun buku 2026. Sebelumnya, sikap netral didasarkan pada asumsi pasar minyak masih dalam kondisi oversupply hingga kuartal II atau III-2026.