BWPT juga berencana memperluas kapasitas pengolahan pabrik Bangkirai serta pembangunan pabrik baru di Papua dan Kalimantan Timur. Ini akan meningkatkan kapasitas milling menjadi 400 metrik ton per jam pada 2028, dari sekitar 370 metrik ton per jam pada 2025.
Keunggulan lain BWPT terletak pada posisi keberlanjutan. Saat ini, empat dari tujuh pabrik milik perseroan telah bersertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Perusahaan menargetkan penambahan satu pabrik bersertifikasi RSPO setiap tahun, sehingga seluruh fasilitas dapat memenuhi standar tersebut pada 2027.
Samuel Sekuritas menilai status RSPO ini menempatkan BWPT pada posisi strategis untuk mengakses pasar ekspor CPO premium. Di tengah pengetatan regulasi keberlanjutan global dan tuntutan rantai pasok yang dapat ditelusuri, keunggulan ESG BWPT berpotensi meningkatkan stabilitas penjualan, daya lekat pelanggan, serta membuka peluang ekspansi valuasi.
Dari sisi makro, harga CPO dinilai memasuki keseimbangan baru di level yang lebih tinggi. Program biodiesel Indonesia, dikombinasikan dengan ketatnya pasokan akibat penurunan produktivitas di negara produsen utama, terus menopang harga.
Rata-rata harga CPO pada 2025 diperkirakan naik 1,6 persen secara tahunan menjadi MYR4.267 per ton, setelah melonjak 10,1 persen pada 2024.
Penurunan yield global dipicu oleh penuaan tanaman dan lambatnya replanting, serta alih fungsi lahan di Malaysia. Di Indonesia, keterbatasan penerbitan izin HGU baru juga mendorong lonjakan biaya akuisisi lahan menjadi USD13.000-15.000 per hektare, dari sebelumnya USD5.000-8.000 per hektare.