Di sisi lain, jajaran petinggi Federal Reserve dilaporkan mulai kompak menyuarakan sinyal pengetatan moneter (hawkish) apabila indikator inflasi di Negeri Paman Sam tidak kunjung menjinak mendekati target sasaran.
Tekanan psikologis bagi instrumen mata uang negara berkembang diprediksi akan semakin pekat sepanjang pekan ini, mengingat pasar sedang bersiap menanti rilis data makroekonomi AS berskala besar.
Beralih ke faktor domestik, Ibrahim menyoroti mengapa penurunan harga minyak mentah dunia gagal memberikan daya dongkrak atau sentimen positif bagi rupiah.
Rupiah justru melempem akibat ketakutan pasar terhadap pengelolaan defisit anggaran negara serta polemik restrukturisasi regulasi tata niaga ekspor.
"Kemudian yang ketiga ya tentang kebijakan-kebijakan yang kurang pro terhadap pasar ya ini yang membuat kemungkinan besar rupiah ini masih akan terus mengalami pelemahan dan pelemahan ini kemungkinan akan berlanjut besok ya ada 50-60 poin pelemahan," ujar Ibrahim.
(DESI ANGRIANI)