Sementara itu, belanja negara sudah mencapai Rp227,3 triliun per Januari 2026. Realisasi itu setara 5,9 persen dari target belanja negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun. Artinya, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara.
Oleh sebab itu, defisit APBN mencapai Rp54,6 triliun atau setara 0,21 persen dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026.
Lebih lanjut, untuk defisit keseimbangan primer tercatat mencapai Rp4,2 triliun. Sementara itu, target keseimbangan primer didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak ada kenaikan dalam defisit APBN.
Pada akhir Januari 2024, defisit APBN mencapai Rp23 triliun atau setara 0,09 persen dari PDB (lebih rendah Rp31,6 triliun dibandingkan realisasi akhir Januari 2026). Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.
"Berdasarkan analisis tersebut, diprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp16.770-Rp16.800 per USD," kata dia.
(Dhera Arizona)