Menurut Ibrahim, Indonesia membutuhkan pembelian minyak dalam jumlah besar, berkisar 800.000 hingga 900.000 barel per hari. Lonjakan harga minyak akan meningkatkan beban impor dan memperlebar defisit transaksi berjalan, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, indeks dolar AS juga diproyeksikan menguat ke kisaran 98 hingga mendekati level 102. Ini didorong oleh ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat masih akan mempertahankan suku bunga acuannya di tengah data ekonomi yang relatif solid.
“Dolar yang semakin kuat membuat arus modal cenderung keluar dari pasar negara berkembang. Ini memperparah tekanan terhadap rupiah,” tutur dia.
Selain faktor ekonomi, eskalasi konflik geopolitik menjadi pemicu utama ketidakpastian pasar global. Ketegangan yang melibatkan sejumlah negara di Timur Tengah serta konflik Rusia-Ukraina mendorong investor global mencari aset aman seperti dolar AS dan emas, sehingga menekan mata uang lain.
Ibrahim menilai, selama ketegangan geopolitik belum mereda dan harga minyak masih tinggi, tekanan terhadap rupiah akan terus berlanjut. Bahkan, tidak menutup kemungkinan pelemahan bisa menembus level psikologis baru jika kondisi global semakin memburuk.