Pelemahan disebabkan oleh sentimen atau imbas dari sejumlah momentum politik, baik tingkat global dan regional. Misalnya, pemilihan umum Presiden Amerika Serikat (AS) dan wait and see pelaku usaha terhadap kebijakan kabinet ekonomi Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
"Di kuartal IV (2024) kita melihat mungkin akan ada pressure lagi di rupiah, karena faktor yang tadi saya sebutkan, sehingga (rupiah) mungkin bisa kembali ke kisaran Rp16.000,” kata dia.
(NIA DEVIYANA)