Perbedaan tersebut turut mendorong penguatan dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) mencatat kenaikan harian terbesar sejak pertengahan Juni, sementara imbal hasil US Treasury 10 tahun kembali menyentuh level tertinggi dalam 52 pekan.
Mirae Asset menilai penguatan dolar AS tersebut lebih mencerminkan respons pasar terhadap nada hawkish The Fed ketimbang perubahan fundamental dalam proyeksi suku bunga.
Karena itu, tekanan tersebut diperkirakan dapat mereda ketika positioning pasar kembali menyesuaikan dengan proyeksi suku bunga The Fed yang relatif tidak berubah.
Meski demikian, pergerakan rupiah tetap menjadi faktor penting bagi arah kebijakan BI selanjutnya.
Mirae Asset memperkirakan level Rp17.850-Rp17.900 per USD menjadi batas yang perlu dicermati. Jika rupiah bergerak menuju level tersebut, BI berpotensi kembali mengandalkan SRBI atau mempertimbangkan kenaikan suku bunga.