Namun, dari domestik ada tekanan nilai tukar rupiah, di mana rupiah menutup pekan di kisaran Rp17.863 per USD (kurs BCA, 29 Mei 2026) mendekati level terendah sepanjang masa. Pelemahan sebesar 6,6 persen YtD menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terendah di Asia bersama rupee India dan peso Filipina.
"Tekanan berasal dari capital outflow terkait rebalancing MSCI, defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 sebesar USD4 miliar (1,09 persen PDB), permintaan valas musiman untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri pada kuartal II serta penguatan dolar AS akibat sikap hawkish The Fed," kata David.
Memasuki Juni 2026, perhatian investor diperkirakan akan beralih dari dampak rebalancing MSCI menuju kemampuan otoritas menjaga stabilitas rupiah dan memulihkan kepercayaan investor asing. Stabilitas nilai tukar akan menjadi faktor paling krusial dalam menentukan arah pasar ke depan.
Meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga menjadi 5,25 persen untuk meredam tekanan eksternal, pasar masih akan mencermati apakah kebijakan tersebut cukup efektif untuk menahan volatilitas rupiah dan mengurangi tekanan arus keluar modal.