sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Menguat ke Rp17.229, Konflik Iran dan Sinyal The Fed Masih Bayangi Pasar

Market news editor Desi Angriani
28/04/2026 17:39 WIB
Penguatan ini terjadi di tengah dinamika global yang masih dipenuhi ketidakpastian, khususnya terkait konflik di Timur Tengah.
Rupiah Menguat ke Rp17.229, Konflik Iran dan Sinyal The Fed Masih Bayangi Pasar (Foto: iNews Media Group)
Rupiah Menguat ke Rp17.229, Konflik Iran dan Sinyal The Fed Masih Bayangi Pasar (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Selasa (28/4/2026), naik 57 poin atau sekitar 0,33 persen ke level Rp17.229 per USD.

Penguatan ini terjadi di tengah dinamika global yang masih dipenuhi ketidakpastian, khususnya terkait konflik di Timur Tengah.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan. Upaya untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai belum menunjukkan kemajuan signifikan, terutama dengan masih terganggunya jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

“Iran memang menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz, namun Washington masih skeptis karena proposal tersebut tidak menyentuh isu utama terkait program nuklir,” ujar Ibrahim dalam risetnya  Selasa (28/4/2026).

Kebuntuan negosiasi ini berdampak pada terganggunya pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menyalurkan sekitar 20 persen kebutuhan minyak dan gas dunia. 

Di sisi lain, Donald Trump dilaporkan belum menyetujui proposal terbaru Iran, sehingga ketegangan geopolitik masih berpotensi berlanjut.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan menggelar pertemuan pekan ini. 

Bank sentral AS atau The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga, sembari memberikan petunjuk lanjutan terkait prospek inflasi di tengah tekanan harga energi global.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti narasi yang kerap disampaikan pemerintah dan otoritas moneter bahwa rupiah berada dalam kondisi undervalued. Menurutnya, narasi tersebut perlu dikaji lebih dalam mengingat tren jangka panjang nilai tukar rupiah yang cenderung melemah sejak satu dekade terakhir.

“Sejak 2014, rupiah bergerak dari kisaran Rp12.000 per USD hingga kini berada di level Rp17.000-an. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai relevansi klaim undervalued tersebut,” ujarnya.

Dia menilai, meskipun sejumlah indikator makroekonomi Indonesia relatif solid seperti inflasi yang terjaga, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta sistem keuangan yang cukup kuat masih terdapat tantangan struktural yang perlu diperhatikan.

Beberapa di antaranya meliputi ketergantungan pada aliran modal asing jangka pendek, arus keluar dalam bentuk dividen dan bunga, serta indikasi pelemahan struktur industri domestik. Faktor-faktor tersebut dinilai membuat nilai tukar rupiah tetap rentan terhadap tekanan eksternal.

Ibrahim menambahkan, penggunaan narasi rupiah undervalued seharusnya tidak hanya menjadi alat komunikasi untuk meredam gejolak pasar, tetapi juga perlu diimbangi dengan perbaikan fundamental ekonomi yang nyata.

Berdasarkan kondisi tersebut, dia memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya akan cenderung fluktuatif dalam kisaran Rp17.240 hingga Rp17.280 per USD.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement