Dia menilai, meskipun sejumlah indikator makroekonomi Indonesia relatif solid seperti inflasi yang terjaga, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta sistem keuangan yang cukup kuat masih terdapat tantangan struktural yang perlu diperhatikan.
Beberapa di antaranya meliputi ketergantungan pada aliran modal asing jangka pendek, arus keluar dalam bentuk dividen dan bunga, serta indikasi pelemahan struktur industri domestik. Faktor-faktor tersebut dinilai membuat nilai tukar rupiah tetap rentan terhadap tekanan eksternal.
Ibrahim menambahkan, penggunaan narasi rupiah undervalued seharusnya tidak hanya menjadi alat komunikasi untuk meredam gejolak pasar, tetapi juga perlu diimbangi dengan perbaikan fundamental ekonomi yang nyata.
Berdasarkan kondisi tersebut, dia memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya akan cenderung fluktuatif dalam kisaran Rp17.240 hingga Rp17.280 per USD.
(DESI ANGRIANI)