Di sisi lain, Donald Trump dilaporkan belum menyetujui proposal terbaru Iran, sehingga ketegangan geopolitik masih berpotensi berlanjut.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan menggelar pertemuan pekan ini.
Bank sentral AS atau The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga, sembari memberikan petunjuk lanjutan terkait prospek inflasi di tengah tekanan harga energi global.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti narasi yang kerap disampaikan pemerintah dan otoritas moneter bahwa rupiah berada dalam kondisi undervalued. Menurutnya, narasi tersebut perlu dikaji lebih dalam mengingat tren jangka panjang nilai tukar rupiah yang cenderung melemah sejak satu dekade terakhir.
“Sejak 2014, rupiah bergerak dari kisaran Rp12.000 per USD hingga kini berada di level Rp17.000-an. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai relevansi klaim undervalued tersebut,” ujarnya.