"Kemudian untuk IHSG, kemungkinan besar ini akan menuju level terkritis, itu di level 4.000 sampai akhir bulan Juni ini," kata dia.
Ibrahim memaparkan, kejatuhan kembar (twin drops) yang dialami oleh rupiah dan indeks bursa saham nasional saat ini digerakkan oleh faktor eksternal makro, yang diawali dari meletusnya konflik geopolitik skala besar di Timur Tengah serta sikap agresif kebijakan moneter bank sentral AS.
Penyerangan militer secara langsung oleh Amerika Serikat ke wilayah teritorial Iran di jalur logistik vital dunia telah memicu aksi balasan yang menyeret stabilitas ekonomi negara-negara sekutu.
"Ini diawali dari masalah geopolitik, kemudian kebijakan bank sentral Amerika secara global, yaitu tentang memanasi situasi di Timur Tengah di mana Amerika melakukan penyerangan terhadap wilayah Iran di Selat Hormuz, kemudian Iran melakukan penyerangan terhadap sekutu-sekutu Amerika di Timur Tengah, terutama adalah di Kuwait dan Uni Emirat Arab yang membuat ketegangan terjadi kembali," ujar dia.
"Ini yang akan membuat peperangan di Timur Tengah, terutama adalah di Senat Hormuz akan semakin memanas," kata Ibrahim.
(Dhera Arizona)