Faktor utama yang menekan pasar adalah meningkatnya tensi militer di Selat Hormuz. Latihan perang besar-besaran yang dilakukan Iran serta insiden tenggelamnya kapal kargo di lepas pantai Oman telah memicu kekhawatiran gangguan jalur perdagangan minyak global.
Selain itu, kata dia, sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap perusahaan-perusahaan yang membantu transportasi minyak Iran semakin memperkeruh situasi. Ketegangan ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan kesiapan AS melakukan serangan terbuka di kawasan tersebut.
Dari sisi moneter AS, pasar mulai berekspektasi bahwa bank sentral AS, The Fed, tidak akan menurunkan suku bunga di tahun 2026. Hal ini disebabkan oleh tingginya inflasi dan lonjakan harga bensin di AS.
Kondisi tersebut memaksa indeks dolar tetap berada di posisi kuat, ditambah lagi dengan sentimen perang dagang antara AS dan China.