IDXChannel - Tekanan dari dinamika perekonomian global rupanya tidak menyurutkan optimisme Bank Indonesia (BI) terhadap ketahanan nilai tukar mata uang rupiah, yang dibuka melemah ke level Rp17.535 per USD pada hari ini, Rabu (13/5/2026).
Otoritas moneter meyakini tren pelemahan rupiah saat ini hanya bersifat sementara, mengingat fondasi makroekonomi nasional terbukti masih sangat solid dibandingkan dengan banyak negara lain.
Gejolak pasar valuta asing bermula dari memanasnya konflik Timur Tengah pada akhir Februari 2026 yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga lebih dari 40 persen. Situasi ini semakin diperberat oleh tingginya permintaan dolar Amerika Serikat (AS) di dalam negeri akibat musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan ibadah haji.
"Faktor dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia juga melemah. Tidak hanya rupiah, ada peso Filipina, baht Thailand, India rupee, hingga mata uang Amerika Selatan seperti di Chile dan won Korea Selatan," ujar Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso saat ditemui di gedung BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).