Meskipun pasar domestik sedang tutup, Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus memantau dan melakukan intervensi di pasar internasional guna meredam volatilitas. Ibrahim mencatat adanya pergerakan intervensi yang cukup efektif pada pagi ini.
"Artinya Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional. Ya mungkin nanti kita akan berbicara berbeda pada saat pembukaan pasar di hari Senin (18/5/2026)," ujar Ibrahim.
Ibrahim memperingatkan adanya beban berat pada anggaran negara akibat tingginya subsidi BBM, mengingat 85 persen dari 1,5 juta barel minyak yang diimpor dialokasikan untuk subsidi. Jika tekanan berlanjut, dia memprediksi rupiah bisa menembus level Rp18.000 bahkan hingga Rp22.000 dalam skenario terburuk.
Sebagai langkah antisipasi, BI diperkirakan akan mengambil kebijakan agresif dalam pertemuan bulan depan.
"Cara satu-satunya ada kemungkinan besar Bank Sentral Indonesia kemungkinan dalam pertemuan di bulan Juni ini akan menaikkan suku bunga. Ya bisa saja 25 basis point sampai 50 basis point. Tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah," kata dia.
Meski demikian, Ibrahim menekankan fundamental ekonomi Indonesia sejatinya masih cukup solid, didukung oleh kepemilikan domestik yang dominan (90 persen) pada instrumen obligasi negara.
(Dhera Arizona)