AALI
12225
ABBA
194
ABDA
6250
ABMM
2950
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
6200
ADHI
715
ADMF
8075
ADMG
181
ADRO
3160
AGAR
332
AGII
2050
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
124
AHAP
63
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1160
AKRA
1015
AKSI
374
ALDO
945
ALKA
308
ALMI
280
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/05/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.29
0%
0.00
IHSG
6883.50
0%
0.00
LQ45
1009.51
0%
0.00
HSI
20697.36
2.89%
+581.16
N225
26781.68
1.44%
+378.84
NYSE
0.00
-100%
-15035.87
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
875,693 / gram

Rusia- Ukraina Memanas, Harga Minyak Mentah Naik Tipis

MARKET NEWS
Dinar Fitra Maghiszha
Senin, 17 Januari 2022 14:36 WIB
Harga minyak mentah mengalami kenaikan tipis pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/1/2022).
Harga minyak mentah mengalami kenaikan tipis pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/1/2022). (Foto: MNC Media)
Harga minyak mentah mengalami kenaikan tipis pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/1/2022). (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Harga minyak mentah mengalami kenaikan tipis pada perdagangan awal pekan ini, Senin (17/1/2022).

Hingga pukul 13:25 WIB, minyak mintah berjangka Brent naik 0,34% di USD86,35/barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,44% di USD83,47/barel.

Penguatan ini terjadi di tengah tingginya permintaan dan spekulasi pasokan yang ketat akibat menurunnya kekhawatiran terhadap varian baru Omicron. Analis melihat katalis ini dapat mendongkrak harga komoditas tersebut lebih tinggi.

"Sentimen bullish masih terus berlanjut mengingat OPEC+ tidak menyediakan cukup pasokan untuk memenuhi permintaan global yang kuat," kata Toshitaka Tazawa, seorang analis di Fujitomi Securities Co Ltd, dilansir Reuters, Senin (17/1/2022).

Sebagai catatan, Organisasi Negara Pengekspor Minyak Bumi dan sekuturnya, Rusia akan secara bertahap menambah produksi untuk mengisi kekurangan pasokan pada tahun pertama virus corona muncul.

Tetapi sejumlah produsen dengan tingkat produksi yang kecil belum dapat meningkatkan pasokan dengan alasan untuk menjaga kemungkinan bangkitnya kembali kasus Covid-19.

"Yang terlihat selanjutnya adalah lonjakan permintaan musim panas nanti, terutama di Eropa dan AS, yang bisa lebih besar dari tahun lalu. Ini bakal terjadi apabila harapan mengubah Covid-19 dari pandemi menjadi endemik terbukti benar," kata Vandana Hari, energy analis di Vanda Insights.

Tidak berhenti hanya sampai Omicron, ancaman geopolitik sejumlah negara adidaya juga akan mendukung sentimen bullish dari komoditas ini.

Pejabat AS sebelumnya menyuarakan kekhawatirannya Jumat lalu (14/1) bahwa Rusia sedang bersiap untuk menyerang Ukraina jika diplomasi gagal. Rusia, yang telah mengumpulkan 100.000 tentara di perbatasan Ukraina, merilis foto pasukannya telah mulai bergerak.

Pemerintah AS telah mengadakan pembicaraan dengan beberapa perusahaan energi international mengenai rencana darurat untuk memasok gas alam ke Eropa jika konflik antara Rusia dan Ukraina mengganggu pasokan dari Rusia.

Sementara itu, stok minyak mentah AS diketahui masih lebih rendah dari yang diharapkan sejak Oktober 2018, meskipun persediaan bensin masih tinggi karena permintaan yang lemah, demikian menurut data Biro Administrasi Informasi Energi, Rabu lalu (12/1).

Dari negeri Tirai Bambu, sebuah sumber membocorkan bahwa China sedang berencana melepaskan cadangan minyak pada sekitar liburan Tahun Baru Imlek antara 31 Januari hingga 6 Februari.

Adapun strategi ini merupakan bagian dari rencana yang dikoordinasikan oleh Amerika Serikat bersama konsumen utama lainnya untuk mengurangi harga di tingkat global. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD