Fasilitas tersebut diperkirakan mulai beroperasi tahun ini dengan kapasitas produksi sekitar 280 ribu ton aluminium.
Kenaikan harga aluminium juga menjadi sentimen positif. Harga logam tersebut baru-baru ini melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun sekitar USD3.500 per ton setelah dua smelter besar di Qatar dan Bahrain menghentikan pengiriman akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Dengan asumsi harga aluminium sekitar USD3.000 per ton pada 2026, Sucor Sekuritas memperkirakan laba ADRO dapat mencapai USD514 juta atau naik sekitar 15 persen secara tahunan.
Berdasarkan prospek tersebut, Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ADRO dengan target harga Rp3.800.
Analis menilai perusahaan memiliki posisi strategis untuk memonetisasi neraca yang kuat melalui transisi energi, potensi lonjakan laba dari proyek smelter dan energi terbarukan mulai 2026, serta struktur permodalan yang semakin membaik setelah puncak belanja modal (capex). (Aldo Fernando)