Sebagai gantinya, ketujuh saham yang masuk JII yakni PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Sentul City Tbk (BKSL), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).
Untuk JII70, saham-saham yang dikeluarkan selain enam saham di atas di antaranya PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT PP (Persero) Tbk (PTPP), dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON). Saham PTPP tetap berada di ISSI, sedangkan PWON dicoret dari ISSI.
Saham ASII, BRPT, dan INCO juga dikeluarkan dari IDXSHAGROW yang mengukur dari sisi pertumbuhan bisnis ketimbang likuiditas perdagangan saham. Sementara empat saham lain yang dicoret di subindeks yang sama, yakni PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), dan PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK). Empat saham tersebut masih bertahan di ISSI.
Secara keseluruhan, BEI mencoret hingga 72 saham dari ISSI karena tidak masuk dalam DES. Selain saham-saham yang disebutkan di atas mulai dari PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) hingga PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE).
Saham dikategorikan syariah jika memenuhi syarat-syarat tertentu yakni bisnisnya tidak boleh bertentangan dengan syariah (barang atau jasa haram, riba, dan lain-lain), rasio utang berbunga terhadap aset tidak boleh lebih dari 45 persen, dan pendapatan non-halal (bunga deposito dan pendapatan non-halal lain) maksimal 10 persen dari total pendapatan.
(Rahmat Fiansyah)