Di tengah kondisi tersebut, bank-bank BUMN menghadapi tantangan lebih besar untuk mempertahankan pertumbuhan kredit karena masih bergantung pada sumber pendanaan di luar dana murah serta likuiditas pemerintah.
Analis UOB Kay Hian Posmarito Pakpahan mengatakan tekanan likuiditas paling berat terjadi pada April-Juni 2026. Setelah periode tersebut, tekanan pendanaan mulai mereda, meski respons perbankan berbeda-beda.
“Bank swasta tetap relatif berhati-hati terhadap pertumbuhan kredit, sementara bank BUMN atau Himbara terus tumbuh lebih cepat, didukung penempatan likuiditas pemerintah atau Saldo Anggaran Lebih (SAL), deposito berjangka, serta sumber pendanaan lainnya,” tulis Posmarito dalam riset yang terbit 21 September 2026.
Singkatnya, aksi jual asing terhadap saham bank besar tidak semata-mata berlangsung dalam konteks tekanan IHSG secara keseluruhan.
Investor juga menghadapi isu sektoral berupa pertumbuhan kredit yang sangat cepat, potensi penyempitan NIM, serta ketergantungan sebagian ekspansi kredit Himbara terhadap program dan likuiditas pemerintah. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.