Eskalasi konflik AS dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, menjadi pemicu repricing risiko global, di mana investor mulai menilai ulang ekspektasi harga energi dan sentimen risiko di pasar saham serta komoditas.
Kenaikan tajam harga minyak seringkali juga ikut mengangkat risiko terhadap komoditas energi lainnya, termasuk batu bara.
Selama ketegangan meningkat, harga energi secara umum naik karena investor memindahkan modal ke komoditas yang dianggap lebih aman atau memperoleh permintaan kuat jika pasokan energi fosil lain terganggu.
Sementara itu, harga batu bara menembus USD119 per ton pada akhir Februari, mencapai level tertinggi sejak Desember 2024, seiring ekspektasi permintaan global yang tetap kuat mengalahkan tekanan peralihan menuju energi bersih.
Mengutip Trading Economics, China, produsen dan konsumen batu bara terbesar dunia, terus menambah kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, di tengah prioritas Beijing pada keamanan energi dan keandalan jaringan listrik.