“Untuk GOTO, ini lebih ke aspek teknis saja. Harga sudah Rp50 selama tiga bulan dan orang susah jual beli dengan likuiditas perdagangan jadi kering,” imbuh Aditya.
Berdasarkan data historis perdagangan, sebelum harga saham GOTO berada di level Rp50, nilai transaksi harian saham tersebut di pasar reguler rata-rata mencapai Rp300-Rp400 miliar.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, rata-rata nilai transaksi GOTO turun di bawah Rp50 miliar per hari. Bahkan, belakangan nilai perdagangannya hanya berada di sekitar Rp3 miliar per hari, menunjukkan penurunan likuiditas yang cukup tajam.
Selain likuiditas, Aditya menyebut basis investor GOTO juga tidak hanya berasal dari passive fund.
Saham tersebut turut dimiliki investor strategis, investor ritel, hingga investor aktif yang melakukan akumulasi ketika valuasi saham dinilai menarik.