Sementara itu, futures tembaga bertahan tepat di bawah USD6 per pon pada Selasa, mendekati rekor tertinggi.
Harga ditopang ekspektasi bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diperkirakan memberlakukan tarif baru atas logam olahan tahun ini, mendorong trader mengalihkan pengiriman ke AS dan memperketat pasokan di wilayah lain.
Gangguan berkelanjutan di sejumlah produsen utama Amerika Selatan, akibat bencana alam, aksi mogok tenaga kerja, dan risiko politik, turut menambah kekhawatiran pasokan.
Pada saat yang sama, permintaan industri yang solid terus menopang harga, seiring transisi ke teknologi ramah lingkungan dan pesatnya ekspansi kecerdasan buatan (AI).
Kendaraan listrik membutuhkan hingga empat kali lebih banyak tembaga dibanding mobil berbahan bakar bensin, sementara pusat data AI sangat bergantung pada instalasi kabel yang intensif tembaga.