Lonjakan kekayaan tersebut memicu kembali perdebatan mengenai ketimpangan ekonomi global. Nilai kekayaan Musk kini setara dengan produk domestik bruto (PDB) tahunan negara seperti Polandia atau Swiss. Status tersebut juga memperkuat pengaruh Musk dalam politik global yang selama ini kerap memicu kontroversi.
Musk diketahui pernah menyumbangkan ratusan juta dolar untuk kampanye terpilihnya kembali Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Dia juga sempat memimpin Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE) yang melakukan pemangkasan besar-besaran belanja pemerintah, termasuk penutupan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID).
Meski demikian, sebagian besar kekayaan Musk masih "di atas kertas" karena bergantung pada nilai kepemilikan sahamnya di Tesla dan SpaceX. Selain itu, dia tidak dapat menjual saham SpaceX miliknya setidaknya selama satu tahun setelah IPO. Di sisi lain, pencatatan saham SpaceX diperkirakan turut menciptakan lebih dari 4.400 jutawan baru dari kalangan karyawan dan mantan karyawan perusahaan.
Di balik valuasi fantastis tersebut, fundamental SpaceX masih menjadi sorotan. Perusahaan saat ini belum membukukan laba dan dilaporkan mencatat kerugian lebih dari USD9 miliar sepanjang 2025 hingga 2026 akibat besarnya investasi pada AI dan infrastruktur pendukung.
Bisnis utama SpaceX saat ini mencakup produksi serta peluncuran roket yang dapat digunakan kembali. Perusahaan juga mengoperasikan jaringan satelit internet Starlink dan memperluas bisnis AI melalui akuisisi xAI. Dana hasil IPO akan digunakan untuk mempercepat pengembangan roket, satelit, layanan internet Starlink, hingga rencana pembangunan pusat data di orbit.