“Itulah sebabnya kebijakan yang dijalankan oleh Bank Indonesia, tentunya bersinergi dengan pemerintah, menjadi salah satu faktor positif dalam menghentikan rontoknya rupiah dan IHSG. Kalau tidak, pelemahan saham dan mata uang kita bisa “unstoppable” (sulit dihentikan). Pasalnya, sudah menjadi satu antara faktor “real economy”, utamanya situasi fiskal dan APBN kita termasuk beban utang yang melilit, dengan faktor psikologis dan persepsi pasar yang tidak positif,” tuturnya.
SBY berharap momentum ini bisa terus dijaga pemerintahan Prabowo. Dia yakin pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dengan menyehatkan APBN, membatasi dan mengendalikan jumlah utang pemerintah, mencegah terjadinya inflasi, hingga memulihkan kembali kepercayaan investor.
“Meningkatkan komunikasi yang lebih efektif sehingga kebijakan dan langkah pemerintah dimengerti oleh rakyat dan “market”. Menghentikan berbagai spekulasi dan ketidakpastian. Yang tidak kalah pentingnya, melindungi rakyat kita yang sangat terdampak dengan situasi ekonomi, termasuk dampak dari kenaikan harga BBM,” katanya.
Lulusan Akabri 1973 itu mengatakan, dia tahu apa yang tengah dihadapi pemerintah dalam menangani tekanan ekonomi, sehingga rakyat Indonesia perlu bersabar menghadapi kondisi ini. Dia juga menyerukan kepada masyarakat untuk mendukung pemerintah.
"Perlu dukungan publik yang lebih kuat. Ingat, “in crucial thing, unity”. “In important thing, dialogue” dan diwadahinya keragaman pandangan yang konstruktif. Pikiran yang rasional, kebijakan yang tepat, dan aksi-aksi nyata yang serius menjadi sangat penting," katanya.
(Rahmat Fiansyah)