IDXChannel - Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perusahaan mulai mengalihkan fokus ke sektor dengan emisi karbon rendah (low carbon emissions), seperti energi terbarukan, pengelolaan limbah, hingga kendaraan listrik.
Perkembangan ini mencerminkan meningkatnya perhatian global terhadap isu keberlanjutan. Di Indonesia, prospek sektor tersebut diperkirakan semakin menjanjikan pada 2026, seiring dukungan regulasi, pertumbuhan permintaan pasar, serta terbukanya peluang bisnis yang kian luas.
Ketertarikan terhadap sektor beremisi karbon rendah muncul karena banyak negara kini berlomba memenuhi komitmen net zero emissions (NZE).
Indonesia, misalnya, menargetkan mencapai NZE pada 2060. Target tersebut mendorong pemerintah dan pelaku usaha mulai menyiapkan berbagai infrastruktur serta kebijakan untuk menekan emisi gas rumah kaca.
Untuk mendukung pencapaian itu, pemerintah berupaya meningkatkan porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional, mempercepat penggunaan kendaraan listrik, serta mengembangkan mekanisme perdagangan karbon.
Rangkaian kebijakan tersebut pada akhirnya membentuk ekosistem yang semakin kondusif bagi pertumbuhan bisnis berbasis ekonomi rendah karbon.
Momentum transisi energi ini juga membuka peluang besar bagi pelaku usaha, termasuk perusahaan publik di pasar modal.
Sejumlah emiten mulai menata ulang model bisnisnya agar dapat masuk ke segmen bisnis rendah karbon, baik melalui pengelolaan limbah, pengembangan proyek energi bersih, kendaraan listrik, maupun diversifikasi ke sektor yang lebih ramah lingkungan.
Beberapa emiten yang aktif menggarap sektor ini antara lain PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI), PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), dan PT Sumber Global Energy Tbk (SGER).
Perusahaan-perusahaan tersebut mulai menyesuaikan strategi bisnisnya agar tetap relevan dengan tren energi bersih sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul dari agenda keberlanjutan.
Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas, Indonesia memiliki potensi pasar yang besar karena jumlah penduduk yang tinggi. Kondisi ini membuat kebutuhan energi sekaligus volume produksi limbah juga besar.
Dalam konteks tersebut, agenda net zero emissions membuka peluang bisnis baru bagi sejumlah emiten, meskipun masing-masing perusahaan menempuh strategi dan model bisnis yang berbeda.
Perbedaan pendekatan terlihat dari arah transformasi bisnis yang dijalankan.
Sebagian perusahaan menitikberatkan pada pengelolaan limbah, sebagian lainnya mengembangkan proyek energi terbarukan, sementara ada pula yang mengombinasikan keduanya untuk membangun lini usaha yang lebih berkelanjutan.
Salah satu contoh transformasi tersebut terlihat pada TOBA. Menurut analis, perusahaan ini dinilai menarik karena berani mengalihkan fokus dari bisnis batu bara menuju sektor keberlanjutan, melalui pengembangan usaha pengelolaan limbah, energi terbarukan, serta kendaraan listrik.
Langkah strategis yang ditempuh antara lain divestasi aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta akuisisi perusahaan pengelola limbah asal Singapura. Aksi ini memperluas kapasitas sekaligus jangkauan bisnis perusahaan di sektor pengelolaan limbah.
Lini usaha tersebut kini dijalankan melalui entitas baru hasil rebranding CORA Environment, yang sebelumnya dikenal sebagai Sembcorp Enviro. Dalam waktu kurang dari setahun, segmen pengelolaan limbah sudah menyumbang sekitar 38,8 persen terhadap pendapatan perusahaan pada periode Januari-September 2025.
Di sisi lain, perusahaan juga mulai membangun portofolio energi terbarukan melalui pengembangan proyek panel surya serta rencana proyek energi angin di masa depan. Inisiatif ini dijalankan melalui entitas seperti PT Adimitra Energi Hidro (AEH) dan PT Nusantara Trembesi Baru Energi (NTBE).
Meski kontribusi energi terbarukan saat ini masih relatif kecil, langkah diversifikasi tersebut dinilai membuka prospek pertumbuhan bisnis dalam jangka menengah.
Pandangan analis menekankan bahwa TOBA menjadi emiten menarik karena transformasinya yang berani dari perusahaan berbasis karbon tinggi ke entitas rendah karbon, dan karena target net zero emissions yang diusung lebih agresif daripada target nasional.
Posisi strategis regional melalui portofolio perusahaan pengelolaan limbah yang berbasis di Singapura juga menambah daya tarik perusahaan di mata investor.
“Lebih luas, emiten yang memiliki eksposur terhadap bisnis low carbon akan semakin menjadi sorotan pasar. Target net zero emissions yang terus dipantau memberikan insentif bagi perusahaan untuk agresif dalam mengembangkan bisnis berkelanjutan, sehingga menjadi tolok ukur dan pilihan investor,” kata Andhika Audrey.
Andhika juga menekankan bahwa sektor low carbon emissions tidak hanya menarik dari sisi ukuran pasar dan prospek bisnis.
Sektor ini juga semakin dilirik oleh investor asing yang mengadopsi pendekatan investasi berbasis ESG (environmental, social, and governance) serta impact investing.
Menurut dia, emiten yang aktif mengembangkan bisnis rendah karbon berpotensi terus masuk dalam radar investor global tersebut.
Kondisi ini membuat prospek sektor low carbon emissions pada 2026 diperkirakan akan semakin menarik dan dinamis, baik dari sisi pertumbuhan bisnis maupun nilai investasinya. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.